Kerusuhan 22 Mei, Tujuh Jurnalis Alami Kekerasan Aparat

Kerusuhan 22 Mei, Tujuh Jurnalis Alami Kekerasan Aparat

9 views
0

Saat meliput kerusuhan 22 Mei, setidaknya terdapat tujuh jurnalis mengalami kekerasan, intimidasi dan persekusi sejak Rabu (22/5) dini hari hingga pagi hari. Hal tersebut berdasarkan catatan dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta.

Para jurnalis tersebut adalah Budi Tanjung (Jurnalis CNNIndonesia TV), Ryan (Jurnalis MNC Media), Ryan Hadi (CNNIndonesia.com), Fajar (Jurnalis Radio Sindo Trijaya), Fadli Mubarok (Jurnalis Alinea.id), dan dua jurnalis RTV yaitu Intan Bedisa dan Rahajeng Mutiara.

Kekerasan terhadap jurnalis tersebut diduga dilakukan oleh aparat kepolisian dan massa yang berunjuk rasa. Mereka melakukan persekusi dan merampas peralatan kerja jurnalis seperti kamera, telepon genggam, dan alat perekam. Massa memaksa jurnalis untuk menghapus semua dokumentasi berupa foto maupun video.

Atas kejadian tersebut, AJI Jakarta dan LBH Pers mengecam aksi kekerasan dan upaya penghalangan kerja jurnalis yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun massa aksi.

Kerusuhan 22 Mei, Tujuh Jurnalis Alami Kekerasan Aparat (portalaktual.com)

Kerusuhan 22 Mei, Tujuh Jurnalis Alami Kekerasan Aparat

Sementara itu, Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani mengatakan tindakan intimidasi terhadap jurnalis saat meliput peristiwa kerusuhan dapat dikategorikan sebagai sensor terhadap produk jurnalistik.

Perbuatan tersebut termasuk pelanggaran pidana yang diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta.

“Kami mendesak aparat keamanan dan masyarakat untuk menghormati dan mendukung iklim kemerdekaan pers, tanpa ada intimidasi serta menghalangi kerja jurnalis di lapangan,” kata Asnil dalam keterangan tertulis, Rabu (22/5).

Kronologi Intimidasi

Adapun Ryan Hadi, jurnalis CNNIndonesia.com diduga mengalami kekerasan dan intimidasi oleh aparat kepolisian saat meliput kerusuhan di Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/5). Ryan diduga dipukul oleh aparat keamanan saat merekam video aparat yang menangkap terduga provokator massa.

Ryan, saat itu sedang meliput di barisan massa yang melempari batu ke arah pasukan polisi. Massa juga berusaha merangsek ke Markas Polsek Gambir, tetapi dicegah aparat.

Kerusuhan 22 Mei, Tujuh Jurnalis Alami Kekerasan Aparat (portalaktual.com)

Kerusuhan 22 Mei, Tujuh Jurnalis Alami Kekerasan Aparat

Pada pukul 09.30 WIB, suasana bertambah kacau. Aparat kepolisian kemudian memukul mundur massa. Saat itu, polisi menangkap orang yang diduga sebagai provokator.

Melihat hal tersebut, Ryan kemudian merekam kejadian itu dengan ponsel. Tetapi belum sampai satu menit, polisi tiba-tiba merebut ponselnya, hingga jatuh.

“Saya juga dipukul di bagian wajah, leher, lengan kanan bagian atas, dan bahu oleh beberapa aparat Brimob dan orang berseragam bebas,” ujar Ryan.

Ketika itu, Ryan sudah mengaku sebagai jurnalis dan menunjukkan kartu pers yang menggantung di lehernya. Bahkan, polisi memegang dan melihat kartu pers tersebut, tetapi Ryan justru ditampar.

“Mereka tetap mukul wajah saya dengan mengatakan hapus videonya,” tuturnya.

Ryan menyayangkan polisi tidak memberi kesempatan untuk memberi penjelasan. Polisi kemudian merampas ponselnya dan hingga kini belum kembali.

Atas kejadian tersebut, CNNIndonesia.com kemudian meminta konfirmasi kepada  Kapolsek Gambir, AKBP Yohanes Kindangen. Namun dari pihak kepolisian belum merespon panggilan dan pesan singkat dari CNNIndonesia.com untuk diminta konfirmasi terkait kasus ini.

Sebelumnya, aksi unjuk rasa digelar di depan Gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat. Massa aksi tersebut mendukung untuk menolak hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019. Spanduk bertuliskan ‘Rakyat Bersatu Lawan Pemilu Curang’ tampak dibentangkan di depan massa aksi.

About author