Prabowo-Sandi Rencanakan Program Untuk Tangani Kritis Energi

Prabowo-Sandi Rencanakan Program Untuk Tangani Kritis Energi

12 views
0

Jakarta – Pasangan calon presiden dan wakil presiden no urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno sudah merencanakan program dukungan kuat untuk menangani kritis energi di Indonesia. Program jangka pendek dan juga jangkan panjang dalam sektor energi akan segera di jalankan bila pasangan capres-cawapres no urut 02 Prabowo-Sandi dapat memenangkan Pilpres 2019 mendatang. Hal itu di sampaikan langsung oleh kader Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Harryadin Mahardika, di Media Center Prabowo-Sandi di Jl. Sriwijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 8/2/2019.

“Pak Prabowo punya beberapa pemikiran, dalam jangka pendek yang akan beliau instruksikan adalah harus segera kurangi ketergantungan kepada bensin dan solar dan batu bara. Mungkin kita tidak defisit, tapi kita fikirkan tentang dampak lingkungannya,” ungkap Harryadin Mahardika.

Harryadin Mahardika menjelaskan, bahwa salah satu pengguna terbanyak dari bahan bakar minyak yakni kendaraaan bermotor. Hal tersebut menjadi usaha untuk menekan ketergantungan terhadap sumber energi fosil, Prabowo akan memberikan insentif untuk kendaraan yang memakain bahan bakar alternatif dan juga menjalankan konservasi bahan bakar unuk kendaraan bermotor.

“Di era SBY pernah ada wacana konversi energi untuk kendaraan bermotor. Namun saat itu belum sepakat siapa yang akan bangun konverter. Langkah ini adalah satu cara yang bisa lebih cepat sehingga subsidi bisa diarahkan bukan hanya untuk subsidi harga, tapi untuk converter,” jelas Harryadin.

Prabowo-Sandi Rencanakan Program Untuk Tangani Kritis Energi

Prabowo-Sandi Rencanakan Program Untuk Tangani Kritis Energi (portalaktual.com)

Sedangkan, untuk penyelesaian dalam jangka pangjang, Prabowo akan dirikan industri biofuel. Harryadin menyatakan, rancangan industri biofuel cara Prabowo berdasar pada visi yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang menghasilkan bioetanol terbesar di dunia. Sebagai negeri agraris, Indonesia mempunyai modal penting untuk dapat merealisasikan industri itu.

“Kita punya lahan. Menurut data, ada 10 juta hektare lahan tidak produktif. Prabowo mentargetkan 2 juta hektare dikonversi ke bioetanol estate dengan skema public private people partnership. Jadi rakyat atau petani, pengusaha dan negara terlibat dalam industri ini,” tutur Harryadin.

Dia menambahkan, bahwa hal itu menjadi salah satu dukungan kuat untuk industri energi. Para petani pun akan menerima kepastian lahan.

“Inilah yang akan menjadi satu dorongan besar untuk energi. Petani akan mendapat kepastian lahan, sudah ada pembelinya yaitu pabrik, pemerintah juga mendapat bagian dari itu.” pungkas Harryadin.

About author