Puasa 17-18 Jam, Inilah Cerita Mahasiswa Asal Indonesia Di Rusia

Puasa 17-18 Jam, Inilah Cerita Mahasiswa Asal Indonesia Di Rusia

63 views
0

Menjalani ibadah puasa di negeri orang memiliki tantangan tersendiri muslim asal Indonesia. Apalagi durasi puasanya lebih lama dibanding kampung halaman. Sebagaimana yang dijalani Robby Ari Hidayat, mahasiswa asal Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Sejak melanjutkan pendidikan di jurusan Ilmu Kereta Api pada Rostov State Transport University, Rostov-on-Don-Rusia, dia merasakan sebuah tantangan tersendiri untuk berpuasa. Sebab di Rostov-on-Don umat muslim tergolong minoritas. Di tingkat Rusia, Rostov-on-Don memiliki jumlah umat muslim yang lebih besar. Hal itu dipengaruhi kota itu berbatasan dengan Uzbekistan, salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar.

Bagi Robby Ari Hidayat, Ramadan 1439 H/2018 merupakan yang keempat baginya di benua biru. Sejak lulus dari SMA 1 Samarinda pada 2014 silam dia melanjutkan pendidikan di Rostov State Transport University. “Kami di sini sedang musim panas. Siang menjadi lebih lama. Maka puasa berlangsung sekitar 17–18 jam. Berbeda dengan Indonesia yang 11–12 jam,” ungkap Robby kepada Kaltim Post (Jawa Pos Group), lewat sambungan telepon, Selasa (22/5) malam Wita. Ketika musim panas suhunya lebih menyengat dibanding Indonesia. Berkisar 35–38 derajat celcius. “Selain itu di Rostov State Islam bukan mayoritas. Jam belajar-mengajar tetap normal seperti biasa. Itu jadi tantangan,” sebutnya.

Puasa 17-18 Jam, Inilah Cerita Mahasiswa Asal Indonesia Di Rusia

Dibanding tiga tahun lalu, 2018 dirasa yang terberat. Tepat bulan puasa tahun ini, Robby harus menjalani ujian yang berlangsung selama sebulan. Periode ujian memang mengambil banyak waktu lantaran memiliki jeda tiga hari setiap satu mata kuliah. Jeda itu pun bukan menjadi kelonggaran lantaran banyak hal mesti dipersiapkan. “Ujian di sini dilakukan dengan menulis esai. Maka banyak yang harus dihafal,” sebutnya. Kondisi belajar yang cukup berat itu sebetulnya terbiasa bagi pria kelahiran 7 April 1997 itu. Buktinya dia sudah berada di semester enam di Rusia. Hanya saja saat di Rusia ditetap saja mengalami homesick. Terlebih, sepanjang berkuliah baru sekali kesempatannya merasakan Ramadan di Tanah Air. Itu pun begitu singkat.

“Hanya tahun lalu saya dapat kesempatan pulang. Dapat satu hari yang begitu berharga di Indonesia. Tahun lalu karena ada ujian cepat, saya minta didulukan agar bisa Lebaran di Indonesia,” urainya. Namun tahun tidak demikian. Setelah menyelesaikan ujian, Robby dan kawan-kawan di fakultas yang sama harus melanjutkan fase magang di sebuah depo kereta api di perbatasan Rusia. Selama Ramadan untuk mengatasi homesick dia ikut terlibat dalam aktivitas kemahasiswaan di Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Pemira). Tahun ini tercatat 49 mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Rostov-on-Don. Semuanya berasal Jakarta, Medan, hingga Ambon.

“Bersama teman-teman di Pemira, kami sering berbuka bersama dan masak masakan Indonesia. Kangen sedikit terobati,” ulasnya. Di luar Pemira, berbuka puasa dan sahur kerap dilakukan di masjid setempat. Setiap hari, rumah ibadah tersebut selalu menyediakan makanan untuk berbuka dan sahur. Praktis fasilitas tersebut menjadi opsi, jika tak sempat bersiap untuk sahur maupun berbuka. Selain itu juga membantu bagi kantong mahasiswa.

“Masjid di sini selalu menyediakan sup, takjil, semua ada. Sup kambing pasti selalu ada dan lebih mewah dari Indonesia, khas Rusia. Ada juga semacam nasi goreng dengan daging kambing,” jelasnya.Menghadapi durasi puasa yang lebih lama dalam cuaca panas, Robby menyadari pentingnya asupan selama berbuka dan sahur. Dalam mencegah dehidrasi dia harus lebih banyak minum air putih saat sahur. Protein yang dikonsumsi pun lebih ekstra dengan memakan daging ayam, ikan, dan salad. Sebab puasa di Rusia dimulai sejak pukul 02.00 hingga 20.00 waktu setempat.

About author