Melestarikan Budaya Sendratari Kampung Wayang Pucung

Melestarikan Budaya Sendratari Kampung Wayang Pucung

8 views
0

Prakarsa melestari tradisi wayang mengakar kuat dalam hayat masyarakat Dusun Pucung. Menjadi kampung pengrajin wayang kulit dengan teknik tatah sungging, Pucung merupa laboratorium hidup yang penad mengukuhkan pusaka dunia kebanggaan Indonesia.

Melestarikan Budaya Sendratari Kampung Wayang Pucung

Apiknya, bukan saja perkara mereksa otentik wayang kulit, kawula Dusun Pucung juga berinovasi menghadirkan fasad wayang yang lebih dinikmati beraneka ragam kalangan. Persembahkanlah, Sendratari Wayang Dusun Pucung, sebuah kolaborasi pertunjukan wayang kulit, wayang orang dan tarian dalam satu panggung penampilan.

Pendopo Wisata Wayang Dusun Pucung Desa Wukirsari  ramai dengan hadirin dan hadirat masyarakat. Di kaki perbukitan Imogiri yang hening, detak pentas mampu merancak sejenak perdusunan yang biasanya lengang disantap malam. Di sini, saya disambut karib oleh kawan setempat, mas Demy Raharjo – penggiat Wisata Wayang Pucung.

Sosoknya yang partikular dengan perangai keramahan dan aksesoris sepatu putihnya, sanggup membawa saya melebur dalam suasana desa tradisional yang didenyutkan oleh pemuda revolusioner. Demy mempersilakan saya dan rekan narablog perjalanan untuk “feel free” mengabadikan proses persiapan pergelaran Sendratari Wayang. Di balik layar, para pementas tampak tekun berancang-ancang menyongsong pementasan.

Mereka dirias dalam naungan temaram lampu yang dikerubung semribit angin malam. Meski acaranya skala kampung, saya mengamati mereka sungguh melaku penuh totalitas. Mereka akan bermain peran sebagai tokoh wayang dalam Sendratari Wayang dengan lakon Gatotkaca Kalajaya.

Dusun Pucung sejak tahun 2014 menabalkan diri sebagai desa wisata dengan tajuk Wisata Wayang. Demy tercatat sebagai salah satu penggagas dan penggerak utamanya. Kini, Wisata Wayang menjadi paguyuban pengrajin wayang kulit yang menaungi Dusun Pucung dan Dusun Nogosari II di Desa Wukirsari, Imogiri.

Wisata Wayang punya ihwal agung untuk melestarikan tradisi wayang melalui pendekatan wisata yang berkelanjutan. Sejalan dengan proses merawat visi, Wisata Wayang dibakti oleh Bank Central Asia (BCA) sebagai desa binaan sejati. Pergelaran  Sendratari Wayang adalah bagian dari peluncuran Pendopo Pertunjukan yang menjadi rupa dari bakti di bidang infrastruktur sekaligus resepsi HUT BCA ke-61.

Selain makna yang terkandung hakiki, saya sungguh mengapresiasi dengan dimensi estetika badaniyah panggung yang ditampilkan. Sorot tata lampu, sebaran asap hingga pranata suara mampu tampil memesona untuk meromansa narasi Sendratari Wayang berlakon Gatotkaca Kalajaya. Saya pikir, Pendopo Pertunjukan seakan ingin menyuguhkan pentas desa yang berkelas dunia.

Perpaduan yang selaras antara wayang kulit, wayang orang dan tarian adalah pembaharuan yang cerdas untuk menjembatani makna dengan rupa. Selama 90 menit, saya bisa melebur dengan masyhuk pada setiap detail adegan. Cerita luhur Gatotkaca Kalajaya pun tersabdakan begitu mengena kepada semua pasang mata. Bagusnya, lipuran kocak oleh tokoh Punakawan Gareng sanggup memberi keseimbangan semesta pentas di tengah keseriusan perjalanan cerita.

Cerita Sendratari Wayang malam itu bukanlah narasi yang rumit. Seperti esensi dari wayang pada umumnya, kisah Gatotkaca Kalajaya merupakan intisari dari kehidupan manusia sehari-hari. Makanya, alangkah lebih baik, saya  membagikan ikhtisar cerita Lakon Gatotkaca Kalajaya. Berikut kilas singkat kisah Gatotkaca Kalajaya.

About author