Hal Yang Tak Perlu Dikhawatirkan Saat Sudah Menikah

Hal Yang Tak Perlu Dikhawatirkan Saat Sudah Menikah

4 views
0

Setelah menikah bakal ada orang yang menyetrika bajumu, jika menikah cuma didasari pada satu anggapan bahwa setelah menikah akan ada orang yang menyetrika bajumu, membersihkan seluruh pekerjaan rumah, atau menanggung biaya kredit cicilan motor.

Hal Yang Tak Perlu Dikhawatirkan Saat Sudah Menikah

Teman-teman saya seringkali melayangkan lelucon ketika melihat teman lelakinya yang belum menikah diribetkan dengan cucian yang menggunung, kamar yang berantakan, atau kepada wanita yang datang sendirian di satu acara.

“Makanya menikah biar ada yang nyetrikain baju.”

“Kok datang sendirian? Nggak malu sama sepasang sendal yang dipake?”

Orang-orang yang mengimani demikian nampaknya butuh jasa tukang laundry atau ojek, bukan seorang suami atau istri. Menikah semestinya lepas dari stereotip demikian.

Masalahnya, melepaskan diri dari konsepsi semacam itu bukan perkara mudah. Sejak lama, asumsi di sekitar kita bahwa perempuan dinikahi salah satunya untuk mengurus rumah, sementara suami dituntut memenuhi nafkah keluarga.

Asumsi ini terus dibangun dan diam-diam menjadi norma di masyarakat. Maka, saat mereka mendapati suami yang melakukan tugas rumah tangga, atau seorang istri yang berkarier di luar rumah, mereka seketika langsung memberi label buruk.

Seharusnya pernikahan tidak dikhawatirkan kasus demikian. Suami dan istri berhak menentukan tugas dan kewajiban mereka sendiri. Asalkan, keputusan tentang pembagian jatah kerja dalam rumah tangga berdasarkan hasil kesepakatan dengan asas kesetaraan. Bukan karena pengaruh dan desakan sistem sosial yang memang cenderung patriarkis-misoginis.

Dalam sistem sosial yang patriarkis-misoginis, menitipkan baju kotormu dan memasrahkan seluruh urusan rumah tangga kepada istri dianggap wajar. Sementara suami bertanggung jawab penuh dalam mencari nafkah. Atau sebaliknya.

Dengan terus memelihara perspektif demikian, subordinasi terhadap wanita dilanggengkan oleh itu sama saja dengan memelihara maskulinitas sekaligus.

Untuk itu, komunikasi yang sehat perlu dilakukan dalam membangun keluarga. Tindakan memonopoli, mengabaikan pendapat istri atau istri yang memasrahkan segala sesuatu sepenuhnya pada suami, justru membuat salah satu pihak merasa superior, dan secara tidak langsung menciptakan relasi kuasa dan dominasi terhadap pasangan.

Dalam situasi terburuk, sangat mungkin terjadi peluang untuk melakukan tindakan semena-mena dan tindakan KDRT terhadap pasangan.

Jadi, perkara domestik rumah tangga seharusnya, sekali lagi, harus dilandasi dengan kesetaraan dan lepas dari stereotip yang selama ini terlegitimasi dalam nilai dan norma sosial di warga kita yang mencondong patriarkis dan menjunjung tinggi maskulinitas.

Konsep kesetaraan justru mengajarkan pola pikir simpel, bukankah kita semua merupakan manusia? Kenapa atribut seperti jenis kelamin lalu memberikan kekuasaan kepada salah satu jenis kelamin?

Pada akhirnya, menikah bukan untuk melanggengkan dan memupuk patriarki, pernikahan yang baik lahir dari harmonisasi dan rasa adil yang disepakati oleh si lelaki dan perempuan agar beban sosial bisa ditanggung bersama.

About author